Selamat Beraktifitas, Pemuda Maju Olahraga Jaya....................... Hari Rabu, 27 Juni 2018 Libur Nasional untuk Pilkada Serentak SUKSESKAN ASIAN GAMES DAN ASIAN PARA GAMES 2018 PEMUDA INDONESIA KEREN AKSIMU......PEMUDA INDONESIA BERANI BERSATU....

Apa dan Mengapa Indeks Pembangunan Pemuda (IPP)

  • Jumat, 13 Juli 2018
Apa dan mengapa serta bagaimana Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sudah banyak negara yang memahami dan mengimplementasikannya, sebagaimana Indonesia, melalui BPS, yang antara lain menafsirkannya pada situs tersebut   Lalu, apa dan mengapa serta bagaimana Indeks Pembangunan Kepemudaan (IPP), itulah yang in Syaa Allah akan ditelaah saat acara peluncuran IPP di Bappenas hari ini. Jika IPM memiliki formulasi yang seragam di seluruh dunia, rumusan IPP bisa berbeda antar negara. Biarpun agak berbeda, namun pada umumnya IPP mencakup empat aspek mendasar pemuda: pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan/kesejahteraan serta tingkat partisipasi.   Tak berbeda dengan makna hakiki Indeks Prestasi Semester dan Indeks Prestasi Kumulatif di bangku kuliah, IPP juga  menunjuk pada rapor atau indikator keberhasilan pembangunan kepemudaan. Tidak mungkin kita lulus dan mendapat gelar akademik di kampus tanpa memiliki IPS atau IPK yang di bawah standar kelulusan. Demikian juga dengan IPP yang secara kuantitatif dan komparatif dapat dibandingkan nilai capaiannya antar negara dan antar provinsi, bahkan antar kota/kabupaten.   Rumusan IPP Indonesia versi pertama ini mempunyai 5 dimensi/domain: Pendidikan, Kesehatan/Kesejahteraan, Peluang Ekonomi, Partisipasi dan Kepemimpinan, Gender dan Diskriminasi. Kelima dimensi ini masing-masing dijabarkan lagi sehingga totalnya ada 15 indikator.   Tentu saja, usai launching IPP yang lazimnya bersifat seremonial itu, kita dihadapkan pada pertanyaan: bagaimana inplikasinya terhadap kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan kepemudaan di Indonesia.   Untuk menjawabnya, lebih baik dan bijak apabila kita simak kajiannya pada talkshow IPP yang akan mewarnai launching IPP hari ini di Bappenas. Selain para pejabat pemerintah pusat dan daerah, kalangan peneliti dan pemerhati lainnya, acara ini juga mengundang lebih dari 70 organisasi/komunitas pemuda di Indonesia.