Selamat bergabung keluarga kemenpora RI Selamat bergabung keluarga kemenpora RI

Peran Pemuda di Garda Terdepan Dalam Pencegahan Faham Radikalisme

Gelaran kegiatan bertujuan untuk memberikan edukasi dan peningkatan wawasan bagi para pemuda dalam isu paham radikalisme

Peran Pemuda di Garda Terdepan Dalam Pencegahan Faham Radikalisme photo by | arbi

DEPUTI 1 | Bandung. Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora RI melalui Asdep Peningkatan Wawasan Pemuda kembali menyelenggarakan kegiatan "Pelatihan Pencegahan Faham Radikalisme” di Hotel Mercure City Center Bandung, Jawa Barat. selama 3 hari (2-4 Juni 2022).

 Kegiatan ini merupakan kegiatan yang ketiga ditahun 2022, sebelumnya kegiatan yang sama juga pernah dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Selatan dan Jawa Timur dengan total peserta sebanyak 400 pemuda dan pada kesempatan kali ini kegiatan diikuti oleh 160 pemuda dari berbagai komunitas dan organisasi kepemudaan di Provinsi Jawa Barat. Sabtu (4/6/2022)

Deputi 1 Kemenpora Faisal Abdullah didampingi Asdep Peningkatan Wawasan Pemuda Arifin Madjid dan Kepala Bidang Peningkatan Wawasan Pemuda Neneng Nurosi beserta jajaran membuka sekaligus memberikan sambutan dalam kegiatan ini. 

Adapun narasumber diantaranya, Sekretaris Jendral Kosgoro 1957 selaku tokoh nasional Shabil Rahmad. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Barat Asep Sukmana, Deputi Bidang Pencegahan BNPT diwakili oleh Kasubbid Kontra Propaganda BNPT Kolonel Pas Drs Sujatmiko, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Raden Iip Hidayat dan Dharma Wanita Persatuan Kemenpora RI. a

Fisal Abdullah dalam sambutannya, mengatakan, gelaran kegiatan bertujuan untuk memberikan edukasi dan peningkatan wawasan bagi para pemuda khususnya di Provinsi Jawa Barat untuk dapat lebih memahami tentang bahaya faham radikalisme, mengingat Provinsi Jawa Barat khususnya Kota Bandung merupakan salah satu Provinsi dan Kota yang menjadi notis catatan oleh BNPT sebagai salah satu daerah rawan persebaran faham radikalisme, dimana penyebaran faham-faham radikal masuk melalui kelompok-kelompok pemuda terutama dikampus-kampus dengan dalih pergerakan mahasiswa. "Dari kebanyakan korban dan pengikut yang telah ditangani oleh BNPT, sebagian besar korban merupakan pemuda yang berasal dari Jawa Barat," tutur Faisal.

"Melalui Kegiatan Pelatihan ini saya berharap para peserta untuk benar-benar mengikuti dan memperhatikan setiap materi yang diberikan oleh narasumber pengisi materi, agar kalian dapat menjadi pengingat dan garda terdepan untuk memberikan edukasi kepada teman sebaya, keluarga, lingkungan dan masyarakat tentang pentingnya pencegahan paham radikalisme” tambah Faisale.

Sementara itu, Asep Sukmana berpesan, generasi milenial menjadi agent of change, menjadi pionir melawan radikalisme. "Milenial harus aktif dalam kegiatan positif, aktif di organisasi, bidang olahraga dan lainnya agar menjadi pribadi-pribadi yang berprestasi, sehingga dapat mengantisipasi dan mencegah masuknya paham radikalisme," kata Asepe.

Sebagai narasumber pengisi materi Kol. Pas Drs Sujatmiko menyampaikan 4 poin penting dalam upaya sebagai bagian sosialisasinya membendung paham Intoleran, Radikalisme dan Terorisme dengan tema "Membangun Kohesi Sosial Dengan Model Pentahelix yaitu hubungan atau kerjasama yang harmonis antar Pemerintah, Akademisi, Pelaku Usaha, Komunitas, Media dan lain-lain dalam Pencegahan Paham Radikal Terorisme".

Lebih lanjut Kol. Pas Drs. Sujatmiko menambahkan, tentang perlunya menjadi Pioneer di lingkungan masyarakat dan di lingkungan Kerja dalam memperkuat wawasan kebangsaan dengan menanamkan pemahaman yang mendalam terhadap 4 (Empat) konsensus kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang-undang (UUD) Ri 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Bhineka Tunggal Ika.

Bahwa diharapkan generasi muda perlu waspada terhadap provokasi, hasutan dan pola rekruitmen paham radikal terorisme, baik di Lingkungan masyarakat dan ruang publik lainnya baik secara langsung melalui dunia maya," masih kata Kol. Pas. Drs. Sujatmiko.

Terakhir Kol. Pas. Drs. Sujatmiko menerangkan tentang perlunya membentengi diiri dengan pemahaman agama yang damai dan toleran sehingga tidak mudah terjebak narasi radikal terorisme yang sering mengatasnamakan agama. (arb/sal/ast).

BAGIKAN :
PELAYANAN